Friday, 21 July 2017

Bisma Gugur

Gugur Menjadi Kusuma Bangsa






Ribuan Bala tentara bergerak maju bagaikan ombak samudra saling menerjang silih berganti. Gemerincing suara pedang dan kelewang bersulingnya anak panah ditingkah jerit lengking anak manusia, seakan ilustrasi musik kematian yang mengerikan. Itulah perang besar Baratayudha antara Pandawa dan Kurawa.

Gelanggang perang Kurusetra yang terhampar luas bagaikan sebuah pentas permainan drama perebutan nyawa. Panggung maut itu tampak menyeramkan dikelilingi hutan tempat setan dan iblis bercokol turut berpesta menonton kisah drama kematian. Mereka tertawa riang, mereka merasa senang melihat darah berceceran daging berkeping-keping pertanda hancurnya peradaban manusia nyawa tidak berharga.

Demikian perang Barata telah dimulai akibat Duryudana menolak perdamaian. Tongkat panglima di pihak Kurawa berada di tangan si jago tua Arya Bisma yang terkenal gagak sakti tiada tanding. Selain Bisma juga Dorna mantan guru Pandawa ahli menggunakan senjata dan pakar strategi perang, ditopang aji Chandra Birawanya Salya yang ganas mematikan. Sementara di pihak Pandawa hanya memiliki seorang Kresna itu pun tak boleh terlibat langsung secara fisik dalam perang, kecuali memberi petunjuk di saat Pandawa mengalami kesulitan.

Demikianlah selama sembilan hari komando Kurawa di tangan Bisma, serangan Pandawa praktis menjadi lumpuh. Tidak sedikit prajurit yang mati perwira yang perlaya menghadapi amukan Bisma. Siasat gunung segara sulit ditebus. Masuknya Arjuna dalam peperangan kekuatan agak seimbang, meskipun untuk memperoleh kemajuan tetap seru.

Melihat perkembangan yang memprihatinkan, Pandawa mengadakan pertemuan membahas bagaimana mengatasi situasi. Mereka bertanya kepada nasehat agung Kresna. "Selama komando pihak Kurawa masih di tangan Bisma, Pandawa tidak akan memperoleh kemajuan apalagi untuk keluar sebagai pemenang. Bisma tak dapat dikalahkan oleh prajurit laki-laki betapapun saktinya," ujar Kresna.

"Kalau Bisma tak dapat dikalahkan oleh laki-laki, apa harus sama cewek?" seloroh bima seenaknya saking keselnya. "Kau benar dik. Di tangan prajuit wanitalah rahasia kelemahannya," Kresna membenarkan pendapat Bima. Siapa lagi prajurit wanita kalau bukan Srikandi istri Arjuna. Demikianlah kesokan harinya dengan didampingi Arjuna, Srikandi menuju medan laga Kurusetra mengendarai kereta perangnya.

Terkejut Bisma melihat Srikandi menuju ke arahnya. Sementara di angkasa sukma Dewi Amba yang pernah disakiti hatinya oleh Bisma telah siap meraga sukma ke tubuh Srikandi, Bisma sadar bahwa lembaran hidupnya akan segera berakhir. Ia berguman: "Amba aku takkan lari dari sumpahmu. Tapi aku sebagai prajurit takkan membiarkan kemenanganmu akan mudah diraih," tegasnya.

Akhirnya dalam perang itu Bisma roboh setelah sebuah panah Srikandi menancap didadanya yang kemudian disusul panah Arjuna mendorong panah Srikandi bagaikan sebuah paku yang dipalu panah itu tembus ke punggung sang Gangga putra. Tapi karena badannya penuh dengan panah, maka tubuhnya tidak sampai menyentuh tanah. Ia seolah-olah berkasurkan panah, sedang kepalanya terkulai.

Seketika perang dihentikan guna menghormat seorang pahlawan agung yang banyak jasanya pada keturunan Barata. Hari itu Pandawa dan Kurawa tampak akrab saling bertanya, sejenak mereka melupakan perang.

Bisma tersenyum puas karena telah memenuhi darma baktinya. Karena kepalanya terkulai ia minta diganjal. Segera Duryudana memerintahkan mengambil bantal empuk bersarungkan kain sutra. Tapi Bisma menolak katanya: "Maaf, bantal ini terlalu bagus. Aku ingin bantal yang pantas buat seorang prajurit." Bisma melirik pada Arjuna. Arjuna mengerti apa yang diminta. Dengan mata berkaca -kaca Arjuna melepas tiga anak panah ketanah dan kepala Bisma direbahkan tersangga oleh anak panah itu seraya berkata: "Nah, beginilah pantasnya bantal seorang prajurit di medan laga. Jangan aku dipindah dari sini," pintanya. "Oh, aku haus, tolong berikan air," Tanpa pikir lagi Duryudana segera memerintahkan mengambil arak dan anggur. Pemberian itu kembali ditolak dan Bisma melirik Arjuna, dilepaskanlah anak panah ke tanah dibagian sisi kanan Bisma dan keluarlah air jernih memancar dari tanah dan jatuh persis di mulutnya dan dengan nikmatnya ia minum air itu.

Sesaat kemudian Bisma berkata kepada Duryudana: "Wahai cucuku Duryudana, kepandaian Arjuna menandingi Dewa. Dalam segala hal ia tampak lebih menonjol. Karena itu dia bukan tandinganmu. Lebih baik berdamai, berikanlah sebelah negeri ini kepada Pandawa dan hiduplahj rukun bersamanya," wejangnya.

"Tidak eyang, perang tak akan berhenti dan sejengkal tanah pun takkan kuserahkan. Aku yakin kemenangan akan berada di pihak kami," sergahnya tegas. Begitulah keesokan harinya perang pun dimulai lagi. Kali ini Pandawa terus memperoleh kemenangan karena Bisma yang menjadi andalannya telah tiada.

Kresna Duta

Kresna Duta
 
 
 
Prabu Matswapati telah mengetahui panyamaran Pandawa. Keadaan semakin memanas ketika Kurawa meminta Pandawa harus menjalani hukuman buang lagi, karena ketahuan keberadaannya di istana Wirata sebelum waktunya habis. Padahal sesuai perhitungan waktu, Pandawa telah mengakhiri hukuman buang maupun hukuman penyamaran. Prabu Kresna bertindak bijaksana, ia pergi  ke Astinapura dengan kereta dewa yang bisa terbang ke angkasa, Kyai Jaladara,  sedangkan Patih Setyaki yang menjadi saisnya.


Prabu Kresna mencoba merundingkan kerajaan Indraprasta yang menjadi hak Pandawa. Prabu Suyudana bersikukuh tidak mau menyerahkan kerajaan Indraprasta yang menjadi hak Pandawa. Karena Kurawa  adalah pewaris tunggal kerajaan Astinapura termasuk bekas Kerajaan Indraprasta. Karena Indraprasta adalah bagian Kerajaan Astina yang tidak terpisahkan. Prabu Suyudana tidak mau negaranya dipecah-pecah, Prabu Suyudana minta sa tu negara penuh, dan tidak terbagi bagi.Menurut Prabu Suyudana. Para Kurawa memang pewaris sah karena Prabu Drestarasta lebih berhak daripada Pandu. Mengingat Prabu Drestarastra anak sulung dari Prabu Abiyasa. Perundingan tidak mencapai kata sepakat. Kata kata Resi Bisma, Yama Widura dan Prabu Salya yang meminta agar Kurawa dan Pandawa mengadakan perdamaian, namun ditolak mentah-mentah oleh para Kurawa. Prabu Suyudana, justru didukung oleh Adipadi Karna dari Awangga.   Adipati Karna mengatakan lebih baik perang daripada damai dengan Pandawa. Perudingan pun gagal.



Ketika itu di alun alun Istana Astina, Patih Setyaki yang duduk di diatas Kereta Kyai Jaladara sedang mengantuk dan tertidur. Tidak ada angin, tidak ada petir, tiba-tiba saja ada seseorang yang memukul muka Patih Arya Setyaki. Patih Setyaki terjatuh dari kereta dan itu saja masih diseret-seret oleh seorang raksasa muda. Cepat Patih Setyaki meronta sekuat-kuatnya, dan ditendangnya raksasa itu. Raksasa itu jatuh terguling guling. Akhirnya raksasa yang ternyata Burisrawa anak Prabu Salya itu,  mengajaknya berkelahi. Keduanya seimbang sama kuat. Akhirnya mereka berjanji akan melanjutkan perkelahiannya  pada perang Barata Yudha. (Burisrawa Gugur)



Setelah Prabu Kresna meninggalkan persidangan, Prabu Kresna mencari Dewi Kunti di Kaputren. Akhirnya Prabu Kresna dapat menemui Dewi Kunti, ibu dari Pandawa. Prabu Kresna bermaksud mau mengajak Ibu Kunti  ke Wirata agar dapat  berkumpul dengan anak-anaknya Para Pendawa. Namun Dewi Kunti tidak bersedia mengikuti ajakan Prabu Kresna. Karena  Dewi Kunti menjaga amanat Prabu Pandu untuk menjaga Astinapura, Astinapura adalah peninggalan Prabu Pandu Dewanata.



Sementara itu para Kurawa telah mengepung Prabu Kresna, Prabu Kresna terdesak dan marah. Akhirnya berubah menjadi raksasa sebesar gunung anakan, para Kurawa melihat raksasa sebesar gunung anakan itu, lari pontang panting saling bertubrukan.Prabu Kresna berhasil keluar dari istana Astina dan pulang menuju kerajaan Wirata.


Di tengah perjalanan, kereta Prabu Kresna dihentikan Bathara Narada dan para dewa. yang lain. Bathara Narada melucuti senjata Prabu Kresna berupa senjata cakra dan pusaka Kembang Wijaya Kusuma, setelah itu Bathara Narada memberikan buku Jitabsara. Kitab Jitabsara, adalah catatan yang dibuat Sanghyang Penyarikan, yang menerangkan siapa siapa saja yang berperang dalam perang Baratayudha, siapa siapa saja  lawannya, siapa siapa saja yang gugur dalam perang Baratayudha dan siapa siapa saja yang selamat dalam perang Baratayudha. Disamping itu meneurut Prabu Kresna ada satu celah yang bisa dirubah,untuk menyelamatkan seorang Pandawa, namun juga harus ada kurbannya.Bergabunglah dengan Gatutkaca Gugur.



Sementara itu di tengah hutan Selamangleng, Irawan putera Arjuna bersama para punakawan Semar, Garieng, Petruk dan Bagong sedang dalam perjalanan ke negeri Wirata.Tak dfisangka sangka seorang raksasa langsung menyerang Irawan. Irawan terkejut dan tidak bisa berbuat apa apa. Tiba tiba saja raksasa itu menangkap dan menggigit leher Irawan, Untung Irawan ingat dalam bahaya, ia segera menarik pusaka kerisnya, dan menusuk ke jantung raksasa yang menyerangnya. Irawan juga berhasil membunuh raksasa itu. Peristiwa itu terjadi dalam tempo singkat. Kini Irawan dalam keadaaan sekarat. Para punakawan membawabnya ke keraajaan Wirata.



Sesampai di Wirata, Prabu Kresna di kejutkan isakan tangis Arjuna dan saudara-saudaranya sehubungan dengan gugurnya Bambang Irawan, anak Arjuna dengan Dewi Ulupi cucu Begawan Naga Korawa. Bambang Irawan tewas dalam perjalanan menuju Wirata. Semar, sebagai sesepuh  para Pandawa, dan juga seorang dewa, menerangkan riwayat,.raksasa bernama  Kala Srenggi yang tealah membunuh Irawan.


Kisah Cinta Prabu Jatagimbal:

Peristiwa itu terjadi 20 tahunan yang lalu. Dimulai dari Kerajaan Selamangleng, dimana seorang raja raksasa bernama Jatagimbal jatuh cinta pada Dewi Sembadra. Karena cintanya tidak bisa dipadamkan, malah menjilat jilad bagai kobaran api, maka pergilah Prabu Jatagimbal ke negeri Madukara, yang sebelumnya merubah dirinya menjadi Arjuna.. Sementara itu ada pihak lain, yang juga yang mengalami kobaran api asmara, yaitu adik Prabu Jatagimbal, Dewi Jatagini. Dewi Jataginipun berugah ujud menjadi Dewi Sembadra, kemudian berangkatlah ke Madukara. Kemudian sesampai di Madukara, Dewi Jatagini pergi ketaman Maduganda. Ia mencari cari Arjuna. Tanpa diduga Arjuna yang dximaksud telah mendatangi Dewi Jatagini, Mereka saling menikmati cinta yang sudah lama terpendam. Sementara itu Arjuna asli datang pula ketaman. Arjuna hancur hatinya  melihat Dewi Sembadra, istrinya sedang melakukan perbuatan yang tidak terpuji. Tanpa pikir panjang lagi Arjuna menghunus keris, dihunjamkannya  keris Kyai Pulanggeni ke dada orang yang mirip dengan dirinya. Sekalli hunjaman keris pusaka kyai Pulanggeni, tewaslah ia, Arjuna terkejut, ketika melihat orang yang muirip dengannya, berubah menjadi seorang raksasa. Kini Arjuna melihat istrinya sedang tergolek di tempat tidur, darah Arjuna bagai mengalir desas ditubuhnya, segera diseretnya, orang yang dikira istrinya, dan dihajarnya. Tiba tiba saja orang yang dikira istrinya berubah menjadi seroang raseksi..Ia ternyata, Dewi Jatagini adik Jatagimbal yang ssudah terbunuh sebelumnya. Dewi Jatagini sadar kalau yang dipeluk semalaman itu, ternyata bukan Arjuna, melainjkan kakaknya. .Sekarang kakaknya telah tewas dibunuh Arjuna. Jaatagini tidak merelakan kematian kakaknya, maka ia berrsumpah akan membaalaskan kematian kakaknya, Arjuna dan semua keturunannya. Sumpah itu telah terbayar dengan tewasnya Irawan oleh putera Jatagini, yaitu Prabu Kala Srenggi..Bambang Irawan juga merupakan menantu Prabu Kresna, setelah menikahi Dewi Titisari, puterinya.


Melihat keadaan Irawan yng ditangisi oleh Para Kadang Bharata Pandawa, membikin Prabu Kresna tersayat sayat hatinya. Ia sudah tidk bisa menghidupkan kembali Irawan itu, Prabu Kresna tidak bisa berbuat apa-apa.Karena  Prabu Kresna tidak sanggup lagi menghidupkan Bambang Irawan, walaupun sebenarnya kematiannya diluar garis pepesten)belum kehendak Dewa)Para Dewa. mengingat pusaka Wijaya Kusuma sudah diambil dewa. Sehingga Bambang Irawan tidak bisa ditolong. Setelah acara perabuan selesai, Prabu Kresna menyarankan Prabu Puntadewa untuk mulai sekarang menyiapkan Perang Barata Yudha dengan sebaik-baiknya. Pihak Pandawa memerlukan bantuan pasukan dari negeri sahabat, Untuk itu maka Prabu Punta Dewa melayangkan beberapa pucuk surat kepada Raja-raja sahabat Pandawa. Para raja sahabat dimintanya mengirim bantuan pasukan dalam melawan kezaliman Prabu Suyudana ***